“Jaga pandangan lo, Kenjiro.” Rivas menepuk pundak Kenjiro membuat sang empu langsung saja menoleh. Namun, sedetik kemudian ia kembali berbalik menatap lurus ke arah Dhean yang tengah melakukan take.
“Di biodata yang di share Dhean tidak punya kembaran kan?” tanya Kenjiro pelan namun jelas.
Pertanyaan Kenjiro berhasil membuat Rivas berfikir dengan cepat mengeluarkan ponsel miliknya, mengotak-atik data diri Dhean yang sengaja mereka kumpulkan sejak pertemuan pertama mereka. Kenjiro langsung meminta kepada Rivas untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Dhean, dan ia melakukan itu. Apakah ada fakta yang tertinggal atau bagaimana.
“Nggak ada. Dia anak tunggal.” jawab Rivas dengan yakin, tangannya sibuk bergerak membaca biodata milik Dhean.
Kenjiro beralih menatap ke arah Rivas, “Riwayat sakit?”
Rivas tidak tahu mengapa sahabatnya itu bertanya, namun ia tetap mengikuti permintaan Kenjiro. Dengan santai membacakan beberapa fakta tentang Dhean. “Pernah masuk rumah sakit karena tipes itu di tahun 2020. Cuma itu aja selebihnya dia nggak pernah di rawat lagi, MCU-nya selalu oke. Nggak nunjukin gejala aneh.”
Pemuda itu hanya diam mendengar jawaban. “Tapi, sejak kami pulang dia mau ke agensi kemarin. Saya rasa yang di depan saya bukan Dhean.”
“Tapi Dhean nggak ada kembaran. Memang Malvin bilang kalau Dhean itu susah dimengerti, gue dari malam coba baca ulang-ulang chat Malvin tentang Dhean sampai gue punya kesimpulan sendiri.”
Rivas menatap Kenjiro yang hanya diam, “It seems like he has a split personality.”